
INILAHCOM, Jakarta - Hari-hari ini, pasar bursa di Asia diprediksi masuk masa paceklik. Lantaran, perang dagang yang ditabuh AS terhadap China bakal berbalas.
Kekhawatiran pasar cukup masuk akal karena China memutuskan untuk tidak memenuhi undangan AS untuk membahas tarif perdagangan. Pasar sangat khawatir akan reaksi balasan China yang tak terima dengan keputusan AS. Apalagi, negeri Tirai Bambu ancang-ancang
mematok tarif US$ 60 miliar untuk produk AS yang masuk ke China.
Sebelumnya, AS sudah menerbitkan aturan pengenaan tarif masuk US$ 200 miliar untuk produk China yang masuk ke AS mulai hari ini (Senin, 24/9/2018).
Menurut Wall Street Journal, China resmi membatalkan pertemuan dengan AS pada pekan ini terkait kebijakan AS tentang tarif dagang. Atas perkembangan ini, perdagangan saham di sejumlah bursa di Asia, sangat kurang bergairah. Semisal, MSCI Asia Pasifik di luar Jepang, pagi ini terkoreksi 0,3%. Sementara bursa Australia turun 0,25%.
Dan, perdagangan saham lebih banyak dilakukan di pasar forex. Ya, karena bursa Jepang, China, dan Korea Selatan masuk hari libur. Sementara indeks dolar AS pada pagi ini berada di kisaran 94,23. Pertanda the greenback ingin melakukan rebound terhadap keranjang mata uang utama di dunia. Akhir pekan lalu, greenback berada di level 94,22.
Harga minyak mentah semakin mendekati US$80 per barel. Diduga kuat dipicu sejumlah isu. Diantaranya, turunnya cadangan minyak AS, penerapan sanksi Iran, serta negara OPEC dan aliansinya yang menunjukkan keengganan menaikkan produksi. [tar]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2pxmsE3
No comments:
Post a Comment