
INILAHCOM, Surabaya - Rabu (24/10/2018) besok, dzurriyah pendiri NU bersama para kiai NU akan menggelar Halaqah Ulama Nahdliyyin dalam rangka menjaga marwah NU.
Gelaran yang akan dilakukan di Ponpes Tebuireng, Kabupaten Jombang didasari kerisauan yang muncul akibat maraknya politisasi NU.
"Sudah emergency, kondisinya sudah gawat. Karena itu, kami, anak cucu pendiri NU, berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan NU pada jalan yang benar. Jalan yang bersih dari kepentingan politik praktis, NU jangan sampai jadi alat untuk merebut kekuasaan," kata KH Sholahul Am Notobuwono, selaku dzurriyah pendiri NU, KH Wahab Chasbullah, Selasa (23/10/2018).
Sosok yang akrab disapa Gus Aam ini berpendapat jika nafsu politik justru semakin merusak NU. "Mereka ingin mengeruk suara Nahdliyyin sebanyak-banyaknya dengan merusak tatanan organisasi," cetusnya.
"Nafsu politik itu menjadi sempurna, ketika dibingkai dengan ideologi (ekstrem kanan dan kiri). Dari kanan warga NU ditakut-takuti isu PKI, dari kiri warga NU dihantui dengan bahaya khilafah dan Wahabi. Hari ini, ancaman benturan itu sudah di depan mata," tambahnya.
Gagasan Halaqah Ulama itu disambut positif oleh sejarawan NU, Choirul Anam. Menurutnya, kondisi politisasi NU yang sedemikian massif tidak bisa dibiarkan.
"Seperti diketahui, setelah KH Maruf Amin melepas amanah sebagai Rais Am PBNU, memilih jadi cawapres berpasangan dengan capres Joko Widodo, wajah NU menjadi politis. Ini musibah bagi NU," jelas pria yang akrab disapa Cak Anam itu pada kesempatan terpisah.
Kondisi NU saat ini, dipandang Cak Anam, sudah sangat kronis. "Pengurus NU di semua tingkatan seakan lupa bahwa NU sudah kembali ke khitthah. Bahwa NU tidak lagi berorientasi pada politik praktis, politik kepartaian dan atau perebutan kekuasaan. Warga NU bebas menentukan pilihan dengan dibekali Sembilan Pedoman Politik. Ini Keputusan Muktamar ke-28 di Krapyak, November 1989," tegasnya.
"Maka dari itu, upaya dzurriyah Mbah Hasyim dan Mbah Wahab ini harus didukung demi menjaga marwah NU dari kepentingan politik praktis. Para kiai sepuh telah melihat secara cermat realitas politik praktis, politik kepartaian dan perebutan kekuasaan, tidak hanya dengan mata kepala yang disebut ainun'. Tetapi juga dengan nalar kritis dan mata hati yang bernama bashiratun," pungkas Cak Anam.[beritajatim]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2yuQJbd
No comments:
Post a Comment