
INILAHCOM, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB ) mengakui keterbatasan kemampuan pihaknya dalam menghadapi bencana besar di tanah air.
Kepala Pusat Data dan Informasi Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, keterbatasan itu disebabkan oleh peralatan peringatan dini bencana tsunami yang dialami pihaknya.
"Saat ini Indonesia memiliki 5 Deep-Ocean Tsunami Detection Buoy yakni milik negara asing. Satu buah milik India di Aceh, satu buah milik Thailand di perairan Andaman, 2 buah milik Austaralia di Sumbawa dan satu unit milik Amerika Serikat di utara Papua," ujar Sutopo di kantornya, Jakarta Timur, Rabu (3/10/2018).
Ia menambahkan, saat ini pihak Pemerintah Daerah (Pemda) pun belum siap menghadapi bencana besar. Adapun BMKG sejauh ini mampu merekam sistem sistem peringatan dini tsunami pasca dua hingga lima menit setelah gempa bumi .
"Kesempatan terbaik untuk menyelamatkan diri berkisar 30 sampai 40 menit jika sarana prasarana memadai," ucapnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan menjelaskan sebenarnya Indonesia memiliki 22 Tsunami Detection Buoy yang dihibahkan oleh Jerman, Amerika Serikat, dan Malaysia.
"Tetapi semuanya hilang karena vandalisme dan pencurian. BMKG jadinya memprediksi potensi sunami berdasarkan metode pemodelan. Artinya, perkiraan tsunami itu dihitung berdasarkan pusat kedalama gempa dan magnitudo gempa. Infrasttruktur dan sarpras tsunami masih sangat minim, harga 1 unit buoy produk USA berkisar Rp7-8 miliar. Dan anggaran APBN APBD masih sangat terbatas," tuturnya. [ton]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2O2kUAr
No comments:
Post a Comment