
INILAHCOM, Ponorogo - Meski longsor hebat di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, sudah satu setengah tahun berlalu namun kawasan tersebut masih dalam kategori harus diwaspadai.
Memasuki musim hujan ini, area bekas longsor belum aman betul untuk dimanfaatkan sebagai lahan bercocok tanam.
Kepala Desa Banaran Sarnu mengatakan, saat ini masih ada sekitar empat hektare lahan bekas longsor yang hingga saat ini kondisinya mengkhawatirkan.
Lokasinya berada di kawasan tebing yang ambrol, tepatnya di sektor A pencarian. Saat kemarau lalu, telah terjadi rekahan tanah di lokasi tersebut.
"Rekahan ini sewaktu-waktu bisa menyebabkan terjadinya longsor. Kalau hujan mulai rutin mengguyur seperti sekarang kita sudah melihat mulai terjadi longsor kecil di tebing itu. Ambles karena kondisi tanahnya labil," ujarnya, Selasa (13/11/2018).
Pihak desa telah menghimbau warga untuk mewaspadai titik-tik yang rawan longsor itu. Selain sekitar tebing, yang harus diwaspadai adalah zona aliran longsor di mana tanahnya rawan ambles karena berada di dekat sumber air.
Sarnu menambahkan, warga sendiri sebetulnya sudah mengetahui area mana yang boleh disentuh dan mana yang tidak.
Untuk memulihkan kondisi lahan bekas longsor berbagai cara sudah diupayakan oleh warga dan pemerintah desa. Di antaranya dengan penghijauan dan pengolahan lahan.
"Pada daerah yang tidak aman sudah banyak ditanami tanaman keras untuk mencegah terjadi kikisan. Sedangkan lahan yang aman sudah banyak yang ditanami jagung, jahe dan lainnya," imbuh Sarnu.
Longsor di Desa Banaran terjadi pada Sabtu (1/4/2017). Sebanyak 29 warga Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, sempat dinyatakan hilang tertimbun tanah. Material tanah, batu dan pepohonan menutupi tiga dusun dan menimbun kebun, jalan dan rumah warga beserta para penghuninya.
Sebanyak 17 warga mengalami luka ringan saat berupaya menyelamatkan diri dan telah dibawa ke Puskesmas Pulung. Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang dan kini diungsikan di tenda-tenda BPBD dan rumah-rumah warga.
Longsornya bukit yang oleh warga setempat dijuluki Gunung Gedhe berlangsung sekitar pukul 7.30 WIB. Longsor yang mengalirkan material longsor hingga sekitar 1,5 km dengan lebar sekitar 250 meter.
Warga setempat menyatakan, longsor yang terjadi benar-benar di luar dugaan mereka. Sebab bukit yang juga merupakan kebun berbagai tanaman ini baik-baik saja. Hanya saja pada Kamis sebelumnya memang terjadi rekahan dan tanah anjlok.
Setelah proses pencarian, sebanyak lima koran tewas ditemukan. Di 2018, dua kerangka lagi ditemukan dan diduga korban longsor Banaran. Sehingga total ada tujuh korban tewas yang ditemukan. Lebih dari 20 lainnya masih tertimbun longsor.[beritajatim]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2Fl8bVC
No comments:
Post a Comment