Pages

Saturday, December 8, 2018

Harga Minyak Naik, Harga Obligasi Terancam

INILAHCOM, Jakarta - Kenaikan harga minyak dunia ditengarai bakal mendongkrak inflasi AS sehingga memberi ruang kenaikan suku bunga The Fed. Ini menjadi sentimen negatif bagi pasar obligasi domestik.

Reza Priyambada, analis senior CSA Research Institute mengatakan, meningkatnya imbal hasil obligasi AS terjadi seiring dengan berbalik naiknya harga minyak mentah dunia. "Dengan kenaikan harga minyak mentah tersebut memberikan asumsi akan berimbas pada kenaikan inflasi yang pada akhirnya dapat mendukung kenaikan suku bunga The Fed," kata Reza di Jakarta, akhir pekan ini.

Lebih jauh dia menjelaskan, masih adanya penilaian tersebut tentunya membuat pergrakan pasar obligasi dalam negeri kian tertekan. "Diharapkan sentimen dari dalam negeri masih ada yang lebih positif sehingga mampu mengurangi potensi pelemahan tersebut," ujarnya.

Untuk itu, Reza menyarankan para pemodal untuk tetap mencermati dan mewaspadai terhadap sentimen yang dapat membawa pasar obligasi melemah kembali.

Pada Jumat (7/12/2018), meski laju rupiah berhasil menguat, belum membuat laju pasar obligasi bergerak positif. Pelaku pasar tampaknya masih melakukan aksi jual seiring masih adanya kekhawatiran akan risiko global ke depannya.

Rilis kenaikan cadangan devisa juga belum mampu mengangkat pasar obligasi. Adapun untuk pergerakan masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) imbal hasilnya rata-rata turun 0,47 bps; tenor menengah (5-7 tahun) naik 2,37 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 1,99 bps.

Laju pasar obligasi cenderung bergerak turun. Pada FR0063 yang memiliki waktu jatuh tempo 5 tahun dengan harga 91,48% memiliki imbal hasil 7,94% atau naik 0,16 bps dari sebelumnya di harga 91,63% memiliki imbal hasil 7,90%.

Untuk FR0075 yang memiliki waktu jatuh tempo 20 tahun dengan harga 92,25% memiliki imbal hasil 8,31% atau naik 0,18 bps dari sehari sebelumnya di harga 92,19% memiliki imbal hasil 8,32%.

Pada Jumat (7/12/2018) juga rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price turun 0,12 bps di level 108,58 dari sebelumnya di level 108,71. Adapun, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun 0,03 bps di level 104,74 dari sebelumnya di level 104,78.

Sementara itu, pergerakan imbal hasil SUN 10Yr berada di level 8,05% dari sebelumnya di level 8,00% dan US Govnt bond 10Yr di level 2,84% dari sebelumnya di level 2,87% sehingga spread di level kisaran 520,4 bps lebih tinggi dari sebelumnya 512,8 bps.

Sementara pada laju imbal hasil obligasi korporasi, pergerakannya variatif. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana imbal hasil untuk tenor 9-10 bergerak di kisaran level 9,65%-9,76%.

Pada rating AA dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 10,06%-10,07%. Pada rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 11,62%-11,86%, dan pada rating BBB di kisaran 14,20%-14,35%. [jin]

Let's block ads! (Why?)

from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2EazLCB

No comments:

Post a Comment