
INILAHCOM, Nusa Dua - Menkeu, Sri Mulyani mengakui kinerja sejumlah indikator makro ekonomi tersebut di bawah target APBN 2018. Pemicunya karena depresiasi nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.
Namun hingga akhir 2018, pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai 5,2% yang mendapat dukungan dari pertumbuhan investasi yang berada di kisaran 7%. Sedangkan konsumsi masih terjaga di kisaran 5%. "Tahun ini tren penerimaan pajak mengalami peningkatan sehingga menopang penerimaan dalam APBN 2018. Faktor lain dengan kenaikan harga komoditas global yang meningkatan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Namun faktor ini di tahun depan cenderung mengalami tekanan," katanya dalam media gethering di Nusa Dua Bali, akhir pekan ini.
Sementara Dirjen Anggaran Kemenkeu, Askolani menjelaskan pemerintah dapat menjaga pertumbuhan konsumsi tetap di kisaran 5%. Dengan demikian ketika ekonomi global mengalami perlambatan yang menekan kinerja ekspor dan melemahkan investasi asing, tingkat konsumsi masyarakat tetap terjaga. "Ini merupakan hasil dari program pemerintah memberikan bantuan sosial untuk Program Keluarga Harapan (PKH) sehingga konsumsi masyarakat tidak turun, meski ekonomi mengalami perlambatan," katanya dalam kesempatan yang sama.
Kondisi ini tidak dialami oleh negara yang perekonomiannya mengandalkan perdagangan seperti Singapura dan beberapa negara maju. Sebab ketika ekonomi global melambat, tidak ada yang dapat menopang pertumbuhan. "Tetapi pemerintah yang meluncurkan program bantuan bagi keluarga harapan dapat tetap menjaga daya beli masyarakat. Ini salah satu faktor kenapa pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi," jelasnya.
Dalam APBN 2018, pemerintah menganggarkan bantuan sosial (bansos) yang digelontorkan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) mencapai Rp77,3 triliun.Realisasi anggaran bansos akan meningkat karena ada tambahan penyaluran dana untuk Program Keluarga Harapan (PKH) ke-3 bagi peserta baru. Selain itu, pemerintah juga menambahkan anggaran penanggulangan bencana dari pos ini.
Adapun belanja negara, menurut Menkeu, juga cukup bagus sampai akhir tahun akan diperkirakan mencapai Rp2.210 triliun atau tumbuh 11%, lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya tumbuh 6,9%.
Jadi, lanjut Menkeu, pertumbuhan belanjanya tumbuh 11% lebih tinggi dari tahun lalu, pendapatan negara tumbuh 18,2% lebih tinggi dari tahun lalu yang tumbuhnya hanya 6,5%. "Total keseluruhan APBN kita di 2018 diperkirakan defisit hanya 1,86% , jauh lebih rendah dari prakiraan pada Undang-Undang APBN sebesar 2,19%," ungkap Menkeu.
No comments:
Post a Comment