Pages

Monday, December 10, 2018

KLHK Ingin Merkuri Jadi Masa Lalu

INILAHCOM, Lebaksitu - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berharap penggunaan merkuri untuk semua kegiatan dapat dihentikan karena dianggap dapat mengancam keberlangsungan lingkungan dan juga kesehatan.

Direktur Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun (PB3) KLHK Yun Inisiani mengatakan bahwa logam berat seperti merkuri saat ini sudah tidak dapat dimanfaatkan sama sekali lantaran sangat berbahaya.

"Merkuri sudah saatnya tidak digunakan lagi, yah karena manfaatnya sudah tidak ada lagi," kata Yun usai memberikan bantuan fasilitas pengelolaan emas non merkuri kepada satu kelompok koperasi penambang emas rakyat di Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, Banten, Senin (10/12/2018).

Dirinya juga mengatakan bahwa pemerintah Indonesia juga telah menyusun rencana aksi nasional pengurangan dan penghapusan merkuri pada 2030. Selain itu, pemerintah juga telah membentuk komite penelitian dan pemantauan merkuri.

"Pemerintah berkomitmen bahwa dalam konvensi Minamata, bahwa pemerintah terus menggalakan penggunaan merkuri dapat dikurangi," katanya.

Hal tersebut, lanjut Yun, dilakukan demi melindungi masyarakat dari dampak penggunaan merkuri yang berbahaya melalui transfer teknologi pengolahan emas dan/atau alih mata pencaharian penambang PESK (Pertambangan Emas Skala Kecil).

"Hal ini merupakan kunci untuk menyukseskan target pengurangan dan penghapusan merkuri di Indonesia," katanya.

"Seluruh masyarakat dunia juga memiliki kesempatan yang sama dalam mendukung dan membantu tercapainya tujuan Konvensi Minamata," tambahnya.

Informasi saja, hingga pertengahan 2018, setidaknya 101 negara telah meratifikasi Konvensi Minamata. Konvensi ini melarang adanya pertambangan primer merkuri, mengatur perdagangan merkuri, membatasi hingga menghapuskan penggunaan merkuri, mengendalikan emisi dan lepasan merkuri, serta mendorong pengelolaan limbah mengandung merkuri yang ramah lingkungan.

Selain itu Organisasi PBB di bidang lingkungan hidup, yakni UN Environment menyatakan bahwa setiap tahun setidaknya 9.000 ton merkuri lepas ke atmosfer, air maupun tanah. Sumber emisi dan lepasan merkuri terbesar berasal dari kegiatan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), diikuti dengan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, produksi non-ferrous metal, dan proses produksi semen. [jin]

Let's block ads! (Why?)

from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2B4WMDW

No comments:

Post a Comment