
INILAHCOM, Jakarta - Juru bicara ForuMedsoSehat adalah Jeffry Dinomo mengatakan media sosial berperan besar dalam penyebaran informasi serta mempengaruhi penggunanya.
Konten-konten dan percakapan di medsos kemudian masuk ke dalam narasi dan strategi serta taktik kampanye yang didesain untuk memenangkan misi kampanye serta tak jarang untuk menjatuhkan kompetitor.
"Tak jarang sebuah topik menjadi populer baik secara natural karena digerakan oleh desain kampanye untuk menjadi populer," katanya di Jakarta, Minggu (16/12/2018).
Dia menjelaskan volume percakapan seputar paslon Pilpres 2019 sangat besar dan mendominasi percakapan di medsos, melibatkan 55,620 akun dan 206,907 tweets dari kedua kubu paslon. Jumlah akun dan tweets seputar paslon Jokowi-Maruf lebih besar, yaitu sekitar 2.3 kali dari jumlah akun dan tweets seputar paslon Prabowo-Sandi.
"Secara keseluruhan, pembicaraan positif pada Jokowi-Maruf lebih tinggi daripada Prabowo-Sandi. Sedangkan, untuk pembicaraan negatif kepada kedua paslon cenderung berimbang dan pembicaraan netral tentang Prabowo-Sandi lebih tinggi dari Jokowi-Maruf," katanya.
Melihat dari perilaku interaksinya, dimana 1 original post direspon rata-rata lebih banyak dari kluster pendukung paslon Prabowo-Sandi.
"Dapat diindikasikan perilaku di kluster paslon Prabowo-Sandi terindikasi cyber troops, sementara kluster pendukung paslon Jokowi-Maruf terindikasi dukungan individu," ucapnya.
Selain itu, pada kedua kluster pendukung dijumpai suspicious behavior karena cukup banyak ditemukan ditemukan partisipan yang berasal dari akun-akun yang jumlah follower di bawah 50 dan usia akun di bawah 6 bulan.
"Beberapa di antaranya banyak yang baru lahir di bulan Desember. Terdapat 3.8% akun yang terlibat di kluster Jokowi-Maruf dan terindikasi, sedangkan 4.9% akun yang terlibat di kluster Prabowo-Sandi yang terindikasi. Secara prosentase terhadap keterlibatan di masing-masing akun, kluster Prabowo-Sandi prosentase suspicious account lebih besar," katanya. [rok]
No comments:
Post a Comment