
INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas enggan berkomentar kemajuan pembangunan smelter yang dilakukan pihaknya.
Padahal pembangunan smelter adalah salah satu syarat utama mendapatkan perpanjangan izin ekspor konsentrat.
Tony memilih menyampaikan kemajuan pembangunan itu kepada Kementerian Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dengan demikian saat ini dia belum mau berkomentar.
"Nanti saya sampaikan ke ESDM. Pekan depan kami ketemu ESDM," kata Tony usai rapat dengar pendapat di Komisi VII DPR, Jakarta, Selasa (15/1/2019).
Dia juga belum mau komentar pembangunan smelter bakal dilakukan di Gresik atau dipindahkan ketempat lain. "Nanti besok setelah ketemu ESDM," kata dia sembari merangsuk ke dalam mobil dan meninggalkan Gedung DPR.
Sebelumnya, Freeport sudah mengajukan perpanjangan rekomendasi izin ekspor konsentrat tembaga ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pengajuan dilakukan karena rekomendasi yang berlaku selama satu tahun itu akan berakhir pada 15 Februari 2019 nanti. Tapi Freeport tidak merinci berapa jumlah volume ekspor konsentrat tembaga yang diajukan.
"Sudah kami ajukan perpanjangan," kata Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama di Jakarta, (8/1/2018).
Evaluasi kemajuan smelter dilakukan Kementerian ESDM setiap enam bulan sekali terhitung sejak diterbitkannya rekomendasi ekspor. Setiap evaluasi itu progres smelter minimal 90% dari rencana kerja. Bila tidak mencapai target tersebut maka izin ekspor akan dicabut.
Sekedar diketahui, kemajuan smelter Freeport baru mencapai 2,43% pada Februari 2018 kemarin. Progresnya berupa penimbunan lahan smelter seluas 200 hektar. Adapun kegiatan tersebut menelan investasi hingga US$100 juta.
Berdasarkan rencana kerja hingga Agustus 2017 lalu progres tambahan sebesar 2,75%. Dengan begitu total kemajuan pembangunan smelter mencapai 5,18%. Rencana kerja pembangunan pada tahun 2018 antara lain berupa stabilitas lahan pondasi, menyusun studi kelayakan, dan perencanaan dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal).
Diperkirakan dana yang dikucurkan selama satu tahun ini sebesar US$110 juta. Pada 2019 ini pembangunan akan memasuki tahap konstruksi.
Adapun lokasi pembangunan smelter Freeport berada di kawasan industri Gresik, Jawa Timur yakni java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Freeport sebenarnya mulai membangun smelter sejak 2014 silam. Pembangunan smelter itu seiring dengan kebijakan pemerintah yang hanya mengizinkan mineral hasil olahan untuk diekspor.
Lokasi smelter kala itu menyewa lahan milik PT Petrokimia Gresik. Namun pada 2017 kemarin lokasi berpindah ke JIIPE. Pemilihan lokasi smelter di JIIPE berdasarkan sejumlah pertimbangan.
Selain luas wilayah, lokasi smelter dekat dengan pelabuhan. Dengan begitu memudahkan proses pengapalan hasil pemurnian konsentrat tembaga. Ketersediaan suplai energi yang dijamin oleh kawasan industri melalui JIIPE. Sementara untuk kapasitas smelternya sama tetap 2 juta ton konsentrat.[jat]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping http://bit.ly/2HfzvFP
No comments:
Post a Comment