
KISAH lain diceritakan oleh seorang pemuda Madinah meriwayatkan, "Ketika melihat Zainul Abidin keluar dari masjid, aku mengikutinya dan langsung memakinya. Ternyata hal itu membuat orang-orang marah. Mereka berkerumun hendak mengeroyok aku. Seandainya mereka benar-benar melakukannya, pastilah aku babak belur. Untunglah ketika itu Zainul Abidin berkata, "Biarkanlah orang ini." Maka merekapun membiarkan diriku.
Melihat aku gemetar ketakutan, dia menatap dengan wajah bershahabat dan menenteramkan hati, lalu berkata, "Engkau telah mencelaku sejauh yang kamu ketahui, padahal apa yang tidak Anda ketahui lebih besar lagi. Adakah Anda memiliki keperluan sehingga saya bisa membantu Anda?" Aku menjadi malu sekali dan tak bisa berkata apa-apa. Begitu melihat gelagatku, beliau memberikan baju dan uang seribu dirham. Sejak itu setiap kali melihatnya aku berkata, "Saya bersaksi bahwa Anda memang benar-benar keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam."
Kisah berikutnya dituturkan oleh pembantunya sendiri, "Aku adalah pembantu Ali bin Husein. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya. Aku menangis bercampur marah sebab dia tak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata, "Allah Allah Wahai Ali bin Husein, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah kupenuhi Anda justru memukulku?"
Beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata, "Pergilah ke Masjid Nabawi, salatlah dua rakaat kemudian berdoalah, Ya Allah, ampunilah Ali bin Husein." Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan." Aku mengikuti kata-katanya. Aku salat dan berdoa seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumahnya, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka." Allah Subhanahu wa Taala memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan tanah pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.
Akan
KISAH lain diceritakan oleh seorang pemuda Madinah meriwayatkan, "Ketika melihat Zainul Abidin keluar dari masjid, aku mengikutinya dan langsung memakinya. Ternyata hal itu membuat orang-orang marah. Mereka berkerumun hendak mengeroyok aku. Seandainya mereka benar-benar melakukannya, pastilah aku babak belur. Untunglah ketika itu Zainul Abidin berkata, "Biarkanlah orang ini." Maka merekapun membiarkan diriku.
Melihat aku gemetar ketakutan, dia menatap dengan wajah bershahabat dan menenteramkan hati, lalu berkata, "Engkau telah mencelaku sejauh yang kamu ketahui, padahal apa yang tidak Anda ketahui lebih besar lagi. Adakah Anda memiliki keperluan sehingga saya bisa membantu Anda?" Aku menjadi malu sekali dan tak bisa berkata apa-apa. Begitu melihat gelagatku, beliau memberikan baju dan uang seribu dirham. Sejak itu setiap kali melihatnya aku berkata, "Saya bersaksi bahwa Anda memang benar-benar keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam."
Kisah berikutnya dituturkan oleh pembantunya sendiri, "Aku adalah pembantu Ali bin Husein. Suatu kali aku disuruh memenuhi salah satu kebutuhannya, tapi aku terlambat melakukannya. Begitu aku datang langsung dicambuk olehnya. Aku menangis bercampur marah sebab dia tak pernah mencambuk siapapun sebelum itu. Aku berkata, "Allah Allah Wahai Ali bin Husein, mengapa tatkala Anda menyuruhku memenuhi keperluanmu, namun setelah kupenuhi Anda justru memukulku?"
Beliau terkejut lalu menangis mendengar kata-kataku. Lalu berkata, "Pergilah ke Masjid Nabawi, salatlah dua rakaat kemudian berdoalah, Ya Allah, ampunilah Ali bin Husein." Bila engkau mau melakukannya, engkau akan aku merdekakan." Aku mengikuti kata-katanya. Aku salat dan berdoa seperti yang dimintanya. Ketika kembali ke rumahnya, diriku telah menjadi orang yang bebas merdeka." Allah Subhanahu wa Taala memberikan karunia kekayaan yang melimpah kepada Zainul Abidin. Perdagangannya selalu untung dan tanah pertaniannya subur, dikelola para budaknya. Makin hari makin maju perdagangan dan pertaniannya semakin bertambah banyak hartanya.
Akan tetapi Zainul Abidin tidak bersenang-senang dengan kekayaannya itu. Sikapnya tidak berubah. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan kebaikan menuju akhirat. Begitulah, kekayaan menjadi indah di tangan hamba yang shalih. Di antara amal shalih yang beliau sukai adalah bersedekah dengan sembunyi-sembunyi. Di saat malam mulai gelap, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau berkeliling ke rumah para fakir miskin yang tak suka menadahkan tangannya.
Tidak heran jika banyak orang miskin Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatuhnya rezeki untuk mereka itu. Setelah Ali bin Husein wafat dan mereka tak lagi menerima rezeki-rezeki itu, barulah mereka menyadari siapakah gerangan manusia dermawan itu. Sewaktu jenazah Zainul Abidin dimandikan, terlihat ada bekas hitam di punggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya: "Bekas apa ini?" di antara yang hadir menjawab, "Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini." Setelah wafatnya Zainul Abidin, terputus sudah bantuan bagi fakir miskin itu.
[baca lanjutan]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping http://bit.ly/2X8XeLz
No comments:
Post a Comment