
INILAHCOM, Jakarta - Kinerja Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di bawah kepemimpinan Triawan Munaf dikritik. Kurang inovasi dalam mendorong segenap potensi ekonomi kreatif di tanah air.
"Bekraf sebagai sebuah lembaga seharusnya bisa memotivasi masyarakat untuk menciptakan produk kreatif untuk punya nilai ekonomi tinggi. Sehingga bisa berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional," papar pemerhati sosial ekonomi, Arief Gunawan dalam diskusi Rabu Biru di Sriwijaya Center, Jakarta, Rabu (6/3/2019).
Jurnalis senior ini juga mengkritisi kepemimpinan Triawan Munaf yang terkesan kurang paham potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat di Indonesia. "Pemimpin Bekraf haruslah yang paham seluruh potensi ekonomi kreatif di negeri ini. Bukan malah menjadikan Bekraf bak event organizer kekuasaan," papar Bang AG, sapaan akrabnya.
Sedangkan Kawendra Lukistian, pengusaha industri kreatif yang juga Jurkamnas Prabowo-Sandi, mempertanyakan keberpihakan pemerintahan Joko Widodo dalam mendorong pertumbugan ekraf fi tanah air. Di mana, anggaran dalam beberapa tahun belakangan makin ciut. "Anggaran 2019 turun dibanding 2018 yang sekitar Rp764 miliar. Turunya sekitar Rp130 miliar-an. Di mana keberpihakan negara dalam hal ini," ungkapnya.
Kawendra sangat menyayangkan banyaknya kanal-kanal bernilai ekonomi yang belum tersentuh Bekraf. "Ketika berdiskusi dengan para pelaku ekonomi kreatif, kok sepertinya (Bekraf) hanya seperti event organizer atau organizer committee untuk sebuah acara. Seharusnya kan tidak seperti itu," papar Kawendra.
Dia bilang, Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. serta lebih dari 700 bahasa. Jumlah suku di Indonesia lebih dari 1.000 etnis budaya. tentu saja semua itu memiliki kekhasan masing-masing yang bisa diolah menjadi industri kreatif bernilai ekonomi tinggi. [ipe]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2EFWZz7
No comments:
Post a Comment