Pages

Saturday, March 23, 2019

NasDem Jaring Pengusaha Muda dari Pesantren

INILAHCOM, Jember - Peningkatan kemampuan para santri di pesantren-pesantren, khususnya untuk berbagai ilmu kewirausahaan perlu terus dikembangkan.

Apalagi pemerintah telah mengembangkan ekonomi keumatan seperti program Bank Wakaf Mikro di sejumlah Pondok Pesantren. Diharapkan dari pesantren akan muncul wirausahawan-wirausahawan muda dan membuat perusahaan rintisan (start-up) yang bisa berjaya nanti di Indonesia. Jadi pelatihan sumber daya manusianya juga ke pengasuh.

Politisi Nasdem, Charles Meikyansah memiliki pandangan serupa. Selama ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memulai berbagai program pemberdayaan dan pelatihan di pesantren-pesantren.

"Di Jember misalnya, ini kan juga kota Santri, Pak Jokowi sudah menjalankan program Kopentren, Koperasi Pesantren, nantinya juga ada berbagai pelatihan dari Balai Latihan Kerja yang bukan hanya menyasar para santri, namun juga pengasuh atau ustaz yang ada di pesantren," kata Charles, Jumat (22/3/2019).

Caleg DPR NasDem dari daerah pemilihan Jatim IV (Jember-Lumajang) itu, berharap, dalam dua atau tiga tahun mendatang, ada 1.000 pengusaha UMKM yang berasal dari pondok pesantren.

Menurut Charles, para santri perlu disiapkan berbagai ilmu terkait kewirausahaan. Balai latihan kerja yang sekarang sudah ada dan akan terus dikembangkan, adalah terkait Bahasa Asing, lalu untuk keahlian permesinan.

"Sebagaimana kita ketahui, semua santri pasti manut, pasti hormat dengan ustaznya, Sami'na Wa Atho'na (Kami mendengar dan kami taat). Kalau pengasuh pesantren belum tahu mengenai dunia kewirausahaan kita juga berikan pelatihan ke mereka, sehingga bisa menularkan ke santri dan akhirnya semua memahami dunia wirausaha, dunia UMKM ke depan," jelasnya.

Dia menambahkan, yang tidak kalah pentingnya adalah pelatihan manajemennya, bagaimana menjalankan bisnis. Diyakini, hampir semua pengusaha UMKM itu belajar manajemen secara otodidak, belajar soal ekonominya secukupnya. "Ini harus dilatih, bagaimana mengatur modal, perputaran uang di bisnis, lalu mekanisme peminjaman ke bank, hingga membuat UD, CV, bahkan PT, perlu diberi kemampuan juga," tutur Charles.

Sebelumnya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima yudistria mengatakan, saat ini, sudah banyak contoh pesantren yang sukses, salah satunya di Sidogiri, Jawa Timur. Menurutnya, Pesantren Sidogiri punya aset yang cukup besar dan kewirausahaanya dalam bentuk koperasi.

"Terus bisa mengangkat kemiskinan di pondok Pesantren Sidogri. Intinya, sebenarnya yang namanya pesantren itu buku adanya training-training soal kewirausahaan, balai latihan kerja sehingga tercipta inovasi-inovasi baru," katanya.

Apalagi, sekarang juga banyak pondok pesantren yang digital. Mereka sudah memulai berjualan di e-commerce dan ada juga yang berjualan soft ware developer. "Intinya Butuh BLK di pesantren," katanya.

Selain itu, kata dia, dibutuhkan instruktur training kewirausahaan di pesantren. Kemudian, bila perlu ada kurikulum wajib di pesantren di bawah kementerian agama yang namanya kurikulum kewirausahaan.[tar]

Let's block ads! (Why?)

from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2TTGcTO

No comments:

Post a Comment