Pages

Tuesday, March 19, 2019

NasDem Padukan Industri Lokal dengan Bisnis Online

INILAHCOM, Jakarta - Industri kecil merupakan salah satu penopang maju mundurnya suatu daerah. Industri kecil tersebut pun harus diberi bekal agar mampu merebut pangsa nasional maupun internasional.

Politisi NasDem Ade Sudrajat mengatakan pelatihan kepada industri lokal sangatlah penting. Tujuannya agar pelaku industri lokal bisa memperluas pangsa pasar dan memperoleh keutungan yang maksimal.

Caleg DPR RI Partai NasDem Dapil Jawa Barat II itu menambahkan di dapilnya banyak industri lokal bidang penjahit. Yang terbesar itu dari celanan denim jeans, baju hingga baju koko. Bahkan, ada satu kampung diberi nama kampung hijab karena di sana memang khusus membuat hijab.

"Ini potensi cukup kuat namun segmen pasar mereka memang ada di menengah bawah. Tentu artinya bahan baku yg sangat kompetitif yang murah " kata Ade kepada wartawan, Senin (18/3/2019).

Ade pun punya strategi untuk meningkatkan industri lokal naik ke menengah atas. Salah satunya adalah membina pelaku industri lokal itu dari sisi desain, membuat pola yang baik dan bener serta cara menjahitnya.

"Bagaimana akses pasar mengenah atas yang dihubungkan dengan kekinian yaitu pasar online. Dengan online pendapatan jauh lebih tinggi dari sekarang. Namun mereka jg harus dibekali ilmu pengetahuan tentang handphone yang berfungsi sebagai IT nya mereka. Bagaimana cara masuk online, bagaimana menawarkan, bagaimana pembayaran dan sebagainya," tuturnya.

Dia melanjutkan, hal itu tentu pengetahuan yang sangat baru bagi mereka. Memang bukan pengetahuan yang agak rumit namun kompleks lantaran kadang mereka berkonsep untung rugi ingin terasa.

"Jadi tidak biasa dengan konsep untungnya diakumulasikan dalam kurung waktu misalnya 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali karena keterbatasan modal dan sebagainya. Itu yang perlu sentuhan ini kompehensif pelatihan total dari a sampai z tentang bagaimana meng-upgrade diri," kata dia.

Ade berencana menyeleksi orang-orang yang mempunyai kemampuan. Menurutnya, pada dasarnya untuk ongkos listrik dan tenaga kerja sama saja. Namun , bagaimana barang yang diproduksi jadi lebih baik.

"Kita beri pelatihan secara teknis mengenai kompetensi yang bisa kerja sama dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Tenaga Kerja dan kemudian pelatihan mengenai bisnis online sepeti apa. Bagaimana dia posting, bagaimana cara memfoto biar cantik pengemasannya," katanya.

Ade pun membidik pelaku industri lokal yang masih berusia di bawah 40 tahun untuk menjalani pelatihan itu. Ade beralasan entrepreneur muda berani mengambil risiko dalam berbagai hal. Hal itu berbeda dengan sudah berusia di atas 40 tahun yang kejar-kejaran keutungan untuk kebutuhan dapur.

"Kita paparkan risiko awal, apakah dia mau ambil alih atau enggak. Kemudian kita hubungkan dengan perbankan karena sulit, bagaimana juga perbankan butuh legalitas formal baik itu pendirian perushaan, NPWP begitu-begituan lah. Nah ini kita bawah arah ke situ. Tetapi tidak bisa secara individu tentu dengan kelompok 5-10 org kita bentuk koperasi sehingga bisa maju dan dijamin dengan CSR teman perusahaan yang punya akses kes itu," ucapnya.

Di hubungi terpisah, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai perlu adanya perhatian yang lebih besar lagi dari pemerintah, baik pusat maupun daerah guna mengembangkan industri-industri lokal. Salah satunya adalah dengan pemberian insentif fiskal, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Bagi industri di daerah, harusnya mendapatkan intensif fiskal. Jadi misalnya banyak keringanan perpajakan, khususnya pajak daerah, terutama bagi industri-industri yang terkena pukulan ekonomi," ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, perlu juga adanya kemudahan bagi industri lokal untuk mendapatkan bahan baku produksi. Hal itu bisa didukung melalui kerjasama antara pemerintah daerah. Ketersediaan infrastruktur yang memadai juga menjadi salah satu penunjang utama dalam pengembangan industri lokal.

"Di samping itu juga infrastruktur di daerah itu sendiri. Yang membuat mahal biaya logistik itu karena infrastruktur yang belum merata," ungkapnya.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian terus mendorong inovasi sebagai elemen penting dari Revolusi Industri 4.0. Upaya tersebut merupakan implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0 sehingga Indonesia siap menapaki industri digital baik dari segi infrastruktur maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

"Salah satu prioritas peta jalan Making Indonesia 4.0 adalah peningkatan alokasi anggaran untuk aktivitas research and development (R&D) teknologi dan inovasi. Ini adalah lompatan besar dan kerja keras yang perlu didukung segenap pemangku kepentingan," kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto,

Airlangga menyampaikan, industri 4.0 sangat erat kaitannya dengan penyediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi seperti Internet of Things, Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi, serta Virtual Branding. Sehingga, hal tersebut akan jadi tantangan besar bagi Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan dinamika Industri 4.0.

"Meningkatnya konektivitas
Industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan semakin konvergensinya batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya melalui teknologi informasi dan komunikasi," katanya.

Revolusi tersebut merupakan sebuah lompatan besar di sektor industri dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sepenuhnya tidak hanya dalam proses produksi. Tetapi juga di seluruh rantai nilai guna mencapai efisiensi yang setinggi-tingginya untuk melahirkan model bisnis yang baru dan berbasis digital.

"Untuk melangkah ke sana, sektor industri perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci utama penentu daya saing di era Industri 4.0," katanya.

Making Indonesia 4.0 mendorong Indonesia untuk mencapai 10 besar ekonomi di tahun 2030, mengembalikan net export ke kisaran 10 persen, meningkatkan produktivitas kerja dua kali lipat, dan alokasi 2 persen dari PDB untuk aktivitas R&D teknologi dan inovasi.

Upaya ini berpeluang meningkatkan 1-2 persen pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tambahan lebih dari 10 juta tenaga kerja serta peningkatan kontribusi industri manufaktur pada perekonomian.

"Di era Industri 4.0, Indonesia membutuhkan 17 juta tenaga kerja melek digital, dengan komposisi 30 persen di industri manufaktur dan 70 persen di industri penunjang yang nantinya akan mendorong tambahan ekonomi sebesar 150 miliar dolar AS," imbuhnya.[tar]

Let's block ads! (Why?)

from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2ujxcbb

No comments:

Post a Comment