
INILAHCOM, Jombang - Naskur (42), tak berhenti berucap syukur ketika menginjakkan kaki di kampung halamannya Dusun Ganggang, Desa Kedungdowo, Kecamatan Ploso, Jombang, Kamis (4/10/2018).
Naskur tidak sendiri. Dia datang Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama sang istri, Winarti (32) dan anak semata wayangnya, Mochamad Aulia Rohman (7). Ya, bencana gempa dan tsunami memaksa keluarga ini kembali ke kampung halaman. Tempat tinggal serta warung bakso miliknya sudah rata dengan tanah.
"Rabu (3/10/2018) malam, saya sampai rumah. Datang bersama rombongan warga Jawa Timur. Alhamdulillah, saya masih diberi keselamatan," kata Naskur memulai ceritanya.
Sejak kapan merantau ke Palu? Naskur berkisah, dia sudah sekitar 25 tahun merantau di tanah Sulawesi. Dia membuka usaha warung bakso di Kota Palu. Walhasil, dari usaha itu, rezeki datang dengan lancar. Palu sudah menjadi kampung halaman kedua bagi Naskur dan keluarganya.
Namun semua itu berubah pada Jumat (28/9/2018). Kala itu, dia bersama istrinya, Winarti (32) dan anak semata wayangnya, Mochamad Aulia Rohman (7) berada di warung bakso yang notabene tempat usahanya. Lokasi warung tersebut tidak jauh dari pantai.
Ketenangan sore itu berubah menjadi kepanikan. Betapa tidak, bumi tiba-tiba berguncang. Dalam sekejap atap rumah runtuh. Dalam situasi tersebut, Naskur sempat melihat ombak cukup tinggi bergulung, warnanya hitam.
Tanpa berpikir panjang, penjual bakso ini langsung lari ke atas bukit untuk menyelamatkan diri. Begitu juga dengan sang istri beserta anak. "Kejadiannya begitu cepat. Alhamdulillah, saya dan keluarga bisa selamat," katanya mengenang.
Meski demikian, duka yang dialami Naskur dan keluarga belum juga sirna. Karena sang paman, bibi beserta dua anaknya, meninggal. Mereka tidak bisa terselamatkan dalam bencana besar itu. "Masih ada kerabat saya yang sampai hari ini belum ditemukan," katanya dengan suara tercekat.
Dalam situasi yang tidak menentu, Naskur berserta keluarga ditolong seseorang. Mereka kemudian menumpang mobil logistik ke Makassar. Dari Makassar, pria yang sudah 25 tahun merantau di Palu ini terbang ke Bandara Juanda Surabaya.
"Saya trauman. Rencananya, tidak akan kembali ke sana (Palu). Saya dan keluarga akan membangun usaha kecil-kecilan di kampung halaman," ungkapnya.
Duka serupa juga dirasakan keluarga Suyitno (47) dan Ngatmini (42) yang rumahnya tidak jauh dari tempat tinggal Naskur. Saat kejadian, dia bersama empat anak serta menantunya berhasil menyelamatkan diri dengan cara berlari sekencang-kencangnya ke lapangan wali kota Palu.
Seluruh dagangan beserta rumah kontrakanya hancur karena gempa dan hantaman gelombang tsunami. Suyitno menuturkan, dua adiknya yang tak selamat sudah dikuburkan secara masal oleh petugas di Palu.
Sementara sekitar 10 orang keluarganya yang lain hingga kini belum diketahui keberadaannya. "Saya sempat terpisah dengan istri. Hari kedua usai kejadian, saya baru bertemu dengan keluarga," ujar Suyitno.
Setali tiga uang dengan Naskur, keluarga Suyitno juga sudah belasan tahun merantau di Palu. Mereka berdagang di kota tersebut. Apakah akan kembali ke Palu jika situasi sudah normal? Suyitno hanya menggelengkan kepala. [beritajatim]
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2DZhbiF
No comments:
Post a Comment