Pages

Monday, October 22, 2018

Rokok Asing Mengancam, Gerindra Pertanyakan Jokowi

INILAHCOM, Jakarta - Saat kunjungan Kerja Spesifik ke Jawa Timur, pekan lalu, Komisi XI DPR menerima sejumlah masukan dari industri rokok.

Masukan yang dinilai paling menonjol adalah pengenaan tarif cukai yang sama antara Sigaret Kretek Tangan (SKT) dan Sigaret Kretek Mesin (SKM).

Mendengar ini, vokalis Komisi XI DPR, Heri Gunawan, mengatakan, SKT tergolong industri yang menyerap pekerja cukup besar. Pemerintah seharusnya hadir untuk menumbuhkan industri ini. Bukan malah menggencetnya dengan penetapan cukai yang mencekik leher industri SKT.

Kata politisi Gerindra ini, SKT berbeda defab sistem kerja SKM yang sudah menggunakan mesin. Sehingga tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja. Dengan tarif yang sama itulah, akan membuat masalah.

"Jika memang pemerintah berpihak dengan sigaret kretek tangan mungkin akan lebih baik cukainya lebih murah, dari pada sigaret mesin," kata Heri dalam rilis kepada media di Jakarta, Senin (22/10/2018).

Kata Hergun, sapaan akrabnya, alangkah naifnya apabila SKT dibebankan cukai yang setara dengan SKM. Di mana, SKT sudah memproduksi dan mengeluarkan cost untuk karyawan, sementara SKM tidak.

"Jangan sampai terkesan rokok kretek tangan yang produksinya dari tembakau lokal sementara rokok kretek mesin ini rata-rata tembakau dari impor. SKM saat ini membanjiri dan menyaingi tembakau dalam negeri. Di sini terjadi persaingan yang secara subjektif telah mempengaruhi kebijakan yang tidak berpihak kepada petani lokal," ungkapnya

Untuk itu, lanjut Hergun, masalah ini akan dibahas dalam rapat dengar pendapat antara DPR dengan pemerintah. Diharapkan ada keberpihakan dari pemerintah untuk melindungi industri rokok jenis SKT.

Menurutnya, Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan bagi industri rokok asing. Karena penduduk Indonesia sekitar 260 juta jiwa, maka jumlah perokoknya juga cukup besar.

"Kalau saja separuhnya yang merokok, dengan pangsa besar seperti ini tentunya ini menjadi sebuah peluang beberapa perusahaan besar dari luar negeri berupa SKM bisa menguasai pangsa pasar di Indonesia," katanya.

Karena itu lanjut Hergun, harus ada terobosan yang berpihak kepada petani tembakau lokal. Kaitannya dengan kesehatan, rokok adalah pilihan boleh merokok boleh juga tidak. "Jangan mendiskreditkan kalau rokok itu merugikan kesehatan. Gulapun merugikan kesehatan karena bisa menimbulkan berbagai macam penyakit," jelas Hergun. [tar]

Let's block ads! (Why?)

from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2R9jh13

No comments:

Post a Comment