Pages

Thursday, November 15, 2018

Defisit Perdagangan, Jonan Ogah Jadi Kambing Hitam

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignatius Jonan ogah menjadi sasaran terjadinya defisit neraca perdagangan akibat nilai impor Migas yang tinggi.

Jonan malah melempar, yang menjadi persoalan utama adalah pertumbuhan ekspor tidak mampu tumbuh dengan baik untuk menyeimbangkan dengan impor.

"Kalau harga minyak mentah naik tentu biaya impornya juga naik. Kami impor 500-600ribu barel per hari. Jadi kalau orang defisit neraca perdagangan karena impor migas, jepang itu punya gas enggak? Enggak punya. Punya minyak enggak? Enggak punya, tapi dia impor migasnya jauh lebih besar dari Indonesia tapi ekspornya juga besar," kataJonan di Jakarta, Kamis (15/14/2018).

Menurut Jonan, besaran impor migas mustinya tidak boleh dipisahkan dengan kegiatan industri. Sebab sebesar apapun impor migas bula dibarengi dengan pertumbuhan ekspor tidak akan terjadi defisit.

Sebab, kegiatan impor migas alasannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan tersebut harus mampu didominasi aktivitas yang mendorong ekspor.

Jonan pun membandingkan Indonesia dengan Singapura, Jepang, dan Hongkong tidak memiliki sumber migas, tetapi mata uangnya sangat stabil. Hal itu terjadi akibat nilai ekspor Singapura mampu melebihi kebutuhan impor.

Kemudian, Tiongkok yang juga importir migas besar karena setiap harinya bisa mendatangkan 3 juta kilo liter tetapi pertumbuhan ekonominya tinggi akibat kontribusi ekspor yang kuat. Dengan begitu, kegiatan impor tidak bisa dijadikan penyebab dari defisit neraca keuangan.

"Jadi menurut saya ekspornya kurang yang produk non migasnta," kata dia. [jin]

Let's block ads! (Why?)

from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2PvsdBm

No comments:

Post a Comment