
INILAHCOM, Jakarta - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Ahmad Riza Patria mengatakan mengatakan masyarakat butuh kepastian terkait keamanan kotak suara kardus yang akan digunakan KPU pada Pemilu 2019.
"Prinsipnya kami Gerindra ingin bahwa demokrasi pemilu itu berjalan aman, tidak ada buruk sangka, tidak ada prasangka negatif dan ada kepastian," kata Riza kepada INILAHCOM, Minggu (16/12/2018).
Menurut dia, masyarakat pasti khawatir soal keamanan terhadap kotak suara yang terbuat dari kardus. Karena, kotak suara kardus dikhawatirkan mudah dirusak.
"Publik itu harus yakin bahwa kotak suara itu aman, kuat tidak bisa dirusak, tidak bisa dibongkar. Itu yang paling penting, bukan kami keberatan dengan kardus," ujarnya.
Anggota Fraksi Partai Gerindra ini mencontohkan kasus rusaknya sekitar 2.065 kotak suara kardus akibat terendam banjir di daerah Badung, Bali pada 11 Desember 2018.
Padahal, KPU mengklaim kalau kotak suara kardus sama kuatnya dengan kotak suara yang terbuat dari alumunium tapi kasus di Badung, Bali ini harus dijadikan pelajaran.
"Di daerah Badung, Bali kotak suara hancur kena air banjir. Namanya Indonesia, musim hujan banjir ya merata. KPU tidak punya gudang permanen, kan selama ini pinjam sewa. Selama ini dengan alumunium sudah 14 tahun loh dari 2004 sampai sekarang awet dan masih terpakai," jelas dia.
Oleh karena itu, Riza menyarankan kepada KPU untuk lebih kreatif lagi bagaimana menyiasati anggaran penyelenggaraan pemilu 2019 yang minim tapi berkualitas kotak suaranya.
"Saran saya bisa saja dari anggaran yang ada ditambah diganti mika, kalau tidak ada anggaran yang ada disiasati sebagian dulu bertahap dari Pilpres kotak suara mika atau plastik. Kemudian, bisa saja dua kotak suara DPD dan DPR RI dari kardus dan untuk DPRD Kabupaten serta Provinsi pakai alumunium yang ada atau lama karena masih bagus. Itu namanya cerdas, memberdayakan yang ada dan tidak membebani APBN," tandasnya.
Untuk diketahui, Ketua KPU RI Arief Budiman mengklaim kotak suara berbahan karton kedap air sudah digunakan sejak Pemilu 2014. Bahkan, pada Pilkada Serentak yang digelar tiga kali yakni 2015, 2017 dan 2018 juga sudah memakai kotak suara berbahan karton kedap air tersebut.
"Dan kami sudah memikirkan, memutuskan menggunakan karton itu karena kita lihat negara lain juga memakai itu, harganya juga jauh lebih murah dibandingkan yang alumunium," kata Arief.
Bukan hanya itu, Arief menjelaskan alasan lain KPU di daerah belum memiliki gedung sendiri sehingga jika menggunakan kotak suara berbahan alumunium akan terbebani dengan anggara untuk menyewa gudang.
"Ini juga memikirkan internal KPU daerah yang harus nyewa gedung. Nah, dengan karton kedap air ini bisa habis pakai maka kita enggak perlu menyimpannya. Kalau pakai alumunium kita harus bayar orang merakit dan beli baut baru, kemudian pasang lagi," tandasnya.
from Inilah.com - Terkini kalo berita nya ga lengkap buka link disamping https://ift.tt/2QZx4L0
No comments:
Post a Comment